Image and video hosting by TinyPic

Kamis, 15 Maret 2012

Pramuka juga Harus Punya Gaya Hidup Hemat Energi


Jakarta, Kwarnas – Gerakan Pramuka mendukung program Earth Hour yang diselenggarakan rutin sejak tahun 2009 oleh WWF Indonesia. Program kampanye hemat energi yang mengajak masyarakat untuk mematikan lampu secara serentak selama satu jam ini akan dilaksanakan pada tanggal 31 Maret 2012 pukul 20.30 – 21.30. Tujuan utama dari program ini adalah mengajak sebanyak-banyak orang untuk mematikan lampu dan menjadikannya sebagai gaya hidup hemat energi di manapun dan kapan pun.
Tema “Pilih bumi selamat atau bumi sekarat” yang diangkat pada tahun 2009 dan dilanjutkan dengan “Ubah dunia dalam 1 jam” di tahun 2010 betujuan membuat mata publik Indonesia paham bahwa dukungan individu pun dapat berkontribusi pada perubahan dunia. Dengan perubahan tema menjadi “Setelah 1 jam jadikan gaya hidup” dan logo “60+” pada tahun 2011, diharapkan semangat Earth Hour dapat dilakukan tidak hanya setahun sekali dalam 1 hari dan 1 jam, namun bisa dilakukan setiap saat dalam kehidupan sehari-hari oleh siapapun dan dimanapun. Tahun ini temanya adalah “Ini Aksiku! Mana Aksimu?”. Ini ditujukan untuk menantang orang lain melakukan hal positif dalam rangka hemat energi untuk keselamatan bumi.
Selama ini Earth Hour memang fokus di Jawa-Bali. Porsi konsumsi listrik yang terfokus di Jawa-Bali adalah 78%. Kenapa?. Karena 68% konsumennya berada di sini. Bagian Indonesia yang lain mendapatkan porsi lebih kecil. Dari mayoritas tersebut, 23% hanya untuk DKI Jakarta dan Tangerang. Namun demikian, para pendukung program ini tersebar di banyak wilayah di Indonesia. Tahun ini ada 18 kota yang berkomitmen mendukung meriahnya program Earth Hour yakni Banda Aceh, Jakarta, Bogor, Bekasi, Tangerang, Bandung, Yogyakarta, Solo, Semarang, Malang, Surabaya, Kediri, Sidoarjo, Banjarmasin, Samarinda, Manado, Gorontalo, dan Makassar. Ada yang menarik dari 18 kota ini, semuanya dikoordinatori oleh anak muda, usia SMA dan universitas.
Gerakan Pramuka sebagai organisasi pendidikan yang membentuk karakter anak muda menyambut baik program ini. Oleh sebab itu, Kwartir Nasional Gerakan Pramuka menghimbau kepada seluruh anggota Pramuka di Indonesia untuk berpartisipasi.
‘Caranya mudah, cukup matikan lampu dan peralatan elektronik lainnya yang tidak sedang dipakai pada hari Sabtu, 31 Maret 2012 pukul 20.30 – 21.30 waktu setempat.’ kata Verena, Koordinator Kampanye Program Iklim dan Energi, WWF Indonesia. ‘Namun untuk dapat menghitung dukungan yang ada, diharapkan kepada mereka yang berpartisipasi mendata diri di www.wwf.or.id/earthhour. Dan yang paling penting jadikan ini gaya hidup, hemat energi.’
“Program ini bagus, sejalan dengan darma yang kita miliki, yakni pada darma ke-dua “cinta alam”. Dan penuh harap, semoga anggota Gerakan Pramuka dapat berpartisipasi pada program lingkungan ini. Pramuka juga Harus Punya Gaya Hidup Hemat Energi”, ungkap Ketua Kwarnas Gerakan Pramuka, Prof. Dr. H. Azrul Azwar, MPH.

Sumber:
Yosea Kurnianto
Dewan Kerja Nasional – Kwartir Nasional Gerakan Pramuka
Yosea.kurnianto@gmail.com

Senin, 27 Februari 2012

Merintis Saka Pariwisata


Ketua Kwarnas Gerakan Pramuka, Prof. Dr. H. Azrul Azwar, M.P.H Senin siang (27/2) menandatangani Kesepakatan Bersama dengan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif tentang Peningkatan Kemampuan Anggota Gerakan Pramuka di Bidang Kepramukaan. Penandatangan kesepakatan itu berlangsung Senin (27/2) di Auditorium Gedung Sapta Pesona di Jalan Medan Merdeka Barat No. 17, Jakarta Pusat.
Ikut hadir dan menyaksikan acara penandatangan itu adalah Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora), Dr. Andy Alfian Mallarangeng, para pejabat Kementerian Pariwisara dan Pimpinan Kwarnas.
Kak Andi menyambut baik penandatangan kesepakatan ini, guna mendukung Anggota Gerakan Pramuka untuk lebih mencintai Indonesia, “Salah satu metoda revitalisasi Gerakan Pramuka, mencari model-model kegiatan Pramuka yang fun, menambah ilmu pengetahuan, mempunyai nilai tambah, membangun karakter anak-anak muda, sekaligus memberikan penanam nilai rasa kebangsaan,”
Sementara itu Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Mari Elka Pangestu dalam sambutannya sempat mengatakan bahwa dirinya pernah aktif dalam Gerakan Pramuka saat masih duduk di Sekolah Dasar. Hal ini yang mengingatkan beliau betapa pentingnya penanaman keterampilan pada Anggota Gerakan Pramuka, terutama dalam bidang Patriwisata dan Ekonomi Kreatif.
”Penandatanganan kesepakatan ini merupakan bagian dari visi Kemenparekraf untuk memajukan pariwisata dengan melibatkan masyarakat. Kami berharap Saka Pariwisata ini nantinya menjadi pasukan terdepan untuk sadar wisata, khususnya untuk bersih dan indah,” kata Mari Pangestu.
Saat pelaksanaan Jambore Nasional ke-9 di Palembangan, Sumatera Selatan 2011 telah diadakan sosialisasi Saka Pariwisata dengan 3 Krida yaitu Penyuluh Pariwisata, Pemandu Wisata dan Kuliner Wisata.

(Sumber Berita : Humas Kwarnas/Foto: Ilham-Humas Kwarnas)

Sabtu, 25 Februari 2012

Raimuna Dilaksanakan di Tanah Papua

Ketua Kwarda Papua, Kak Alex Hasegem beserta pengurus Kwarda Papua hadir menemui Ketua Kwarnas Gerakan Pramuka, Kak Azrul Azwar pada Jumat sore (18/2) di Gedung Kwarnas-Jakarta.
Selain mengabarkan perkembangan persiapan kegiatan Raimuna Nasional (Rainas), pada pertemuan yang dihadiri Ketua Dewan Kerja Nasional kemudian menetapkan tanggal 25 Juni – 1 Juli 2012 sebagai tanggal pelaksanaan Rainas ke-X di Bumi Perkemahan Cendrawasih, Jayapura, Papua.
Pada kesempatan itu, Kak Alex juga menyampaikan imbauannya kepada Pramuka Penegak/Pandega untuk hadir mewakili daerahnya pada kegiatan yang sudah ditetapkan pada Musyawarah Nasional tahun 2008. “Jayapura relatif aman, Kami buka pintu dan hati Kami untuk siapa saja, Kami persilahkan datang,” ungkap Kak Alex Hasegem. Terlebih Kak Alex juga menjamin kenyamanan dan kemananan selama kegiatan, “Kami Kwarda Papua bertanggungjawab terhadap keamanan,” tandas beliau.
Penyelenggaraan Rainas di Papua memang menjadi istimewa. Karena kata atau istilah “Raimuna” berasal dari bahasa Papua merupakan gabungan dari kata “Rai” dan “Muna”.
“Rai” berarti sekelompok orang yang berkumpul untuk mencapai tujuan tertentu yang ditetapkan bersama. Sedangkan “Muna” adalah daya kekuatan yang berpengaruh baik dalam mencapai kesuksesan. Secara singkat Raimuna dapat diartikan sebagai sekelompok orang yang berkumpul bersama dengan daya kekuatan yang berpengaruh baik untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan bersama.
Rainas I belangsung pada 21-26 Agustus 1969 di Cimanggis, Bogor, Jawa Barat Setelah rutin dilaksanakan setiap lima tahun sekali, Rainas Ke-IX kemudian berlangsung pada 27-Juni -7 Juli 2008 di Bumi Perkemahan Cibubur Jakarta.
[Humas Kwarnas]

Rabu, 22 Februari 2012

Baden Powell Day

Baden-Powell dilahirkan di Paddington, London pada 22 Februari 1857. Dia adalah anak ke-6 dari 8 anak profesor Savilian yang mengajar geometri di Oxford. Ayahnya, pendeta Harry Baden-Powell, meninggal ketika dia berusia 3 tahun, dan ia dibesarkan oleh ibunya, Henrietta Grace Smith, seorang wanita yang berketetapan bahwa anak-anaknya harus berhasil. Baden-Powell berkata tentang ibunya pada 1933, “Rahasia keberhasilan saya adalah ibu saya.” Selepas menghadiri Rose Hill School, Tunbridge Wells, Baden-Powell dianugerahi beasiswa untuk sekolah umum Charterhouse.

Baden-Powell saling berlatih dan mengasah kemahiran kepanduannya dengan suku Zulu pada awal 1880-an di jajahan Natal Afrika Selatan di mana resimennya ditempatkan dan ia diberi penghargaan karena keberaniannya. Ada 3 penghargaan yang diberi angkatan perang Zulu yaitu:

impressa : serigala yang tak pernah tidur, karena dia sering berjaga-jaga saat malam.
kantankye : orang pemakai topi lebar, karena dia selalu memakai topi lebar.
m’hlalapanzi: orang bertiarap yang siap menembak.

Kemahirannya mengagumkan dan dia kemudian dipindahkan ke dinas rahasia Inggris. Dia sering bertugas dengan menyamar sebagai pengumpul kupu-kupu, memasukkan rancangan instalasi militer ke dalam lukisan-lukisan sayap kupu-kupunya.

Baden-Powell kemudian ditempatkan di dinas rahasia selama 3 tahun di daerah Mediterania yang berbasis di Malta. Dia kemudian memimpin gerakan ketentaraannya yang berhasil di Ashanti, Afrika, dan pada usia 40 dipromosikan untuk memimpin 5th Dragoon Guards pada tahun 1897. Beberapa tahun kemudian, dia menulis buku panduan ringkas bertajuk “Aids to Scouting”, ringkasan ceramah yang dia berikan mengenai peninjau ketentaraan, untuk membantu melatih perekrutan tentara baru. Menggunakan buku ini dan kaidah lain, ia melatih mereka untuk berpikir sendiri, menggunakan daya usaha sendiri, dan untuk bertahan hidup dalam hutan.

Pada tahun 1903 Baden-Powell kembali ke Inggris untuk bertugas sebagai Inspektur Jendral pasukan berkuda.

Setelah kembali, Baden-Powell mendapati buku panduan ketentaraannya “Aids to Scouting” telah menjadi buku terlaris, dan telah digunakan oleh para guru dan organisasi pemuda.

Kembali dari pertemuan dengan pendiri Boys’ Brigade, Sir William Alexander Smith, Baden-Powell memutuskan untuk menulis kembali Aids to Scouting agar sesuai dengan pembaca remaja, dan pada tahun 1907 membuat satu perkemahan di Brownsea Island bersama dengan 22 anak lelaki yang berlatar belakang berbeda, untuk menguji sebagian dari idenya. Buku “Scouting for Boys” kemudian diterbitkan pada tahun 1908 dalam 6 jilid.

Kanak-kanak remaja membentuk “Scout Troops” secara spontan dan gerakan Pramuka berdiri tanpa sengaja, pada mulanya pada tingkat nasional, dan kemudian pada tingkat internasional. Gerakan pramuka berkembang seiring dengan Boys’ Brigade. Suatu pertemuan untuk semua pramuka diadakan di Crystal Palace di London pada 1908, di mana Baden-Powell menemukan gerakan Pandu Puteri yang pertama. Pandu Puteri kemudian didirikan pada tahun 1910 di bawah pengawasan saudara perempuan Baden-Powell, Agnes Baden-Powell.

Walaupun dia sebenarnya dapat menjadi Panglima Tertinggi, Baden Powell memuutuskan untuk berhenti dari tentara pada tahun 1910 dengan pangkat Letnan Jendral menuruti nasihat Raja Edward VII, yang mengusulkan bahawa ia lebih baik melayani negaranya dengan memajukan gerakan Pramuka.
Quote:
Pada Januari 1912 Baden-Powell bertemu calon isterinya Olave Soames di atas kapal penumpang (Arcadia) dalam perjalanan ke New York untuk memulai Lawatan Pramuka Dunia. Olave berusia 23, Baden-Powell 55, dan mereka berkongsi tanggal lahir. Mereka bertunangan pada September tahun yang sama dan menjadi sensasi pers, mungkin karena ketenaran Baden-Powell, karena perbedaan usia seperti itu lazim pada saat itu. Untuk menghindari gangguan pihak pers, mereka melangsungkan pernikahan secara rahasia pada 30 Oktober 1912. Dikatakan bahwa Baden-Powell hanya memiliki satu petualangan lain dengan wanita (pertunganannya yang gagal dengan Juliette Magill Kinzie Gordon).

Pramuka Inggris menyumbang satu penny masing-masing dan mereka membelikan Baden-Powel hadiah pernikahan, yaitu sebuah mobil Rolls Royce.

Ketika pecah Perang Dunia I pada tahun 1914, Baden-Powell menawarkan dirinya kepada Jabatan Perang. Tiada tanggung jawab diberikan kepada beliau, sebab, seperti yang dikatakan oleh Lord Kitchener: “dia bisa mendapatkan beberapa divisi umum dengan mudah tetapi dia tidak dapat mencari orang yang mampu meneruskan usaha baik Boy Scouts.” Kabar angin menyatakan Baden-Powell terkait dalam kegiatan spionase dan dinas rahasia berusaha untuk menggalakkan mitos tersebut.

Baden-Powell dianugerahi gelar Baronet pada tahun 1922, dan bergelar Baron Baden-Powell, dari Gilwell dalam County Essex, pada tahun 1929. Taman Gilwell adalah tempat latihan Pemimpin Pramuka Internasional. Baden-Powell dianugerahi Order of Merit dalam sistem penghormatan Inggris pada tahun 1937, dan dianugerahi 28 gelar lain dari negara-negara asing.

Pada tahun 1938, menderita gangguan kesehatan, BP kembali ke Afrika, yang sangat berarti dalam hidupnya, untuk hidup di semi-pensiun di Nyeri, Kenya. Bahkan dia merasa sulit untuk mengekang energinya, dan dia juga terus menghasilkan buku-buku dan sketsa.

Pada tanggal 8 Januari 1941, pada 83 tahun, BP meninggal. Ia dimakamkan di sebuah kuburan sederhana di Nyeri menghadap Gunung Kenya. Pada kepala nisan batunya terdapat tulisan "Robert Baden-Powell, Chief Scout of the World"

Sabtu, 18 Februari 2012

Sejarah Perjuangan Joko Songo

Peristiwa Djoko Songo 1948

Jika berbicara mengenai peristiwa Djoko Songo yakni gugurnya 9 tentara pelajar dalam membela tanah air tidak lepas dari nama GKR Bambang Hadijokowaluyo yang dikenal oleh lingkungannya dengan sebutan mas Yadi. Beliau termasuk dalam 9 tentara pelajar korban yang tewas, 3 diantaranya adalah kerabat keraton Solo dan Jogja. Maka dari itu pihak keraton berinisiatif mendirikan tugu monumen peristiwa Djoko Songo (meninggalnya 9 perjaka) di daerah Solo dan Surakarta. Baru pada tahun 1955 pemerintah berinisiatif memindahkan makam para pahlawan termasuk beliau ke area Taman Makam Pahlawan Karanganyar.

Saat peristiwa itu beliau berusia sekitar 20 tahunan, sedangkan peristiwa itu terjadi pada masa transisi perebutan kembali Indonesia dari pemerintah Jepang oleh pihak sekutu yang diboncengi Belanda.

Saat kejadian beliau bersama 15 orang tentara pelajar lainnya hendak pulang ke kamp perjuangan Indonesia, robongan beliau melewati daerah matesih (sekarang pasar Matesih). Rombongan tersebut sempat bertemu dengan pasukan Belanda. Terjadi baku tembak sengit yang berlangsung selama 30 menit. Akhirnya pasukan tentara pelajar berhasil memukul mundur pasukan Belanda. Rupanya pasukan Belanda yang tersisa sempat mengontak markas pusatnya di Surakarta meminta bantuan personil, Beliau yang saat itu menjadi komandan peleton tentara pelajar Divisi 1 tidak langsung beranjak pergi dari lokasi namun tinggal sementara di Matesih untuk mengamankan keadaan yang saat itu sedang rusuh.

Setelah keadaan sedikit tertanggulangi, beliau dan pasukan tentara pelajar lainnya melanjutkan perjalanan melewati karangpandan. Saat itulah terjadi pengepungan oleh personel Belanda yang menurunkan 5 Brigade. Walaupun kalah jumlah 16 orang tentara pelajar melawan sekitar 300 personel Belanda bersenjata lengkap, namun tentara pelajar terus mengadakan perlawanan.

7 orang tentara pelajar berhasil meloloskan diri dan selamat dari kepungan tentara Belanda. Sisanya 9 orang termasuk Beliau bertahan di KALI SWALUH sebagai benteng brigade. Belanda tidak hilang akal serdadu Belanda meneropong jika mereka melihat sasaran pesawat terbang mereka akan merendah di sekitar sasaran, dengan segera daerah itu akan di bom dan dijatuhi tembakan yang bertubi-tubi. Begitu pula dengan kesembilan Tentara Pelajar yang bersembunyi mereka segera dihujani tembakan, sehingga dalam waktu yang bersamaan kesembilan jejaka itu mati bersama di tempat yang sama termasuk beliau.

Akhirnya kesembilan jenazah itu dibawa ke poliklinik matesih yang sekarang bernama PUKESMAS MATESIH, Hanya dengan diusung menggunakan bambu beratas tikar. Kemudian dimakamkan disekitar pasar Matesih.Pada tahun 1955, 9 pahlawan yang dimakamkan di selatan pasar matesih di pindah ke Taman Makam Pahlawan Karanganyar.merupakan tempat kumpulan pahlawan se-Karanganyar yang merupakan pahlawan yang di kenal.Daftar Tentara Pelajar yang Gugur di daerah Matesih dan sekitarnya pada perang Mempertahankan Kemerdekaan.

1. Lakstoto
2. Moeryoto
3. Roesman Lilik
4. Soepriyadi
5. Soenarto
6. Slamet
7. Soekoto
8. Salam Hasyim
9. Waloeyo (GKR Bambang Hadijokowaluyo - mas yadi)

Oleh pihak keraton beliau mendapatkan penghormatan dan masuk dalam pahlawan keraton yang membela bangsa. Beliau meninggal di usia yang masih muda. Prinsip dan keinginan beliau untuk membela tanah air menjadi dasar bagi pihak keraton Hamengkubuwono dan Pakualam selanjutnya untuk ikut terus berjuang membela tanah air. Nama beliau masih dikenang sampai hari ini sebagai salah satu dari kerabat keraton yang gugur dan sebagai salah satu pejuang Tentara Pelajar yang berjuang sampai titik darah penghabisan.

Jika anda berkunjung ke Solo dan melihat tugu Djoko Songo disitu tertulis :

Kami 9 pemuda mati muda
Kami yang menolak penjajahan bangsa atas bangsa
Dan kami gugur di tengah perang kemerdekaan bangsa

Kami rela mati muda
Demi kekalnya Merah Putih Bendera Pusaka
Biarlah Kami mati
Asalkan Meninggalkan arti

Ayo Pemuda Pelajar generasi Muda
Teruskan Garis-garis Pengorbanan
Kebaktian Kami demi Keagungan
Hari depan Tanah kelahiran Kita ini
Untuk Kemakmuran, Keadilan dan Kokohnya persatuan Rakyat

Indonesia Semesta yang dibakar Semangat Juang
Yang dijadikan api nilai Pancasila
Yang Dilandasi UUD 1945
Dan yang di Ridhoi Tuhan Yang Maha Esa.

Demikian kami paparkan sejarah perjuangan Joko Songo yang kami kutip dari blog DKC Karanganyar (dkckaranganyar.blogspot.com/). Dan untuk mengenang sejarah perjuangan Joko Songo tersebut, Kwarcab Karanganyar dalam hal ini DKC Karanganyar sebagai pelaksana, setiap tahun menyelenggarakan kegiatan Pengembaraan Joko Songo, dan Even Pengembaraan Joko Songo terakhir adalah Joko Songo ke-16. Untuk Even Pengembaraan Joko Songo ke-16, alhamdulillah Sangga putri SMK Negeri 1 Karanganyar berhasil merebut Piala bergilir Bupati Karanganyar dan juara II putra. Ini bukan merupakan prestasi yang pertama, sebelumnya pada even Pengembaraan Joko Songo ke-14, SMK Negeri 1 Karanganyar juga berhasil menyabet juara pertama putri piala bergilir Bupati Karanganyar, juara II putera dan juara III puteri. Alhamdulillah sejak tahun 2000, Gugus Depan SMK Negeri 1 Karanganyar selalu meraih prestasi dalam event Pengembaraan Joko Songo Tersebut. Semoga ini bisa menjadi cambuk, dan magnet bagi kami untuk selalu berkarya dan terus berbakti di dalam memajukan Gerakan Pramuka khususnya di pangkalan Gudep SMKN 1 Karanganyar dan khususnya di Kabupaten Karanganyar. Amiiin.

DOKUMENTASI